Maria sunarto's Blog

Just another WordPress.com weblog

‘KEUMALA’, Cerita Pada Sebuah Kapal

Leave a comment


 

'KEUMALA', Cerita Pada Sebuah Kapal

Oleh: Puput Puji Lestari

Pemain: Nadia Vega, Abimana Arya, Cut Yanti, Islamuddin.

Senja bisa jadi moment alam yang paling indah. Setidaknya itu menurut Langit (Abimana Arya), sang fotografer (30 tahun) pecinta perjalanan. Awalnya senja cuma pelarian. Pelarian atas kekecewaannya terhadap masa lalunya. Langit pernah mengabadikan moment anak yang terluka di suatu daerah yang sedang berkecamuk konflik lokal. Dia lebih sibuk memotret daripada menolongnya. Pelariannya mencari senja justru mengajarkannya banyak makna kehidupan. Jadilah ia mengadakan pameran foto bertema langit senja di sebuah kapal.

Siapa sangka di kapal ia justru terlibat perdebatan menyebalkan yang mengusik lagi soal idealismenya sebagai fotografer. Perdebatan dengan seorang penulis dan pembuat sketsa yang cantik tapi kepala batu. Gadis itu bernama Keumala (Nadia Vega), keturunan Sabang. Keumala menuduh Langit tak lebih sebagai robot pengeksploitasi perasaan. Yang rela mendapatkan moment-moment bagus tanpa meminta izin pada subjek foto. Tidak menyadari bahwa mengambil gambar, memotret orang, berarti merampas sebagian kenangan dan rasa orang-orang yang ia foto.

Perdebatan-perdebatan ini justru membuat mereka semakin menuding sekaligus dekat dan saling memahami. Dan mungkin manjadi ‘rasa’. Di kapal juga, dua manusia yang terbawa romantisme senja di kapal ini berkenalan dengan anak perempuan usil (Cut Yanti) yang cerdas sekaligus optimis soal mimpinya menunggu Ibu yang belum juga ditemukan pasca Tsunami Aceh.

Mereka juga belajar tentang kearifan hidup lewat hikayat-hikayat yang disenandungkan Bapak Inong (Islamuddin). Keakraban mereka terus terjalin hingga Keumala pun mengajak Langit untuk tak sekedar berlayar di kapal tapi melanjutkan perjalanan ke Sabang, melanjutkan pencarian tentang senja terindah di Nol Kilometer Indonesia. Di Sabang, Keumala justru dibenturkan lagi oleh pertanyaan-pertanyaan tentang cinta. Setelah ia mengetahui ia justru divonis menderita retinitis pigmentosa, sebuah penyakit menurun yang bisa berujung pada kebutaan.

Pertanyaan-pertanyaan tentang bagaimana masing-masing pemain dalam film ini melanjutkan kehidupannya menjadi kunci utama. Keumala membutuhkan jawaban apakah ia dicintai Langit? Kenapa ia dibuang sejak kecil? Dan apakah Ibu angkatnya benar-benar mencintainya? Sanggupkah ia menghasilkan karya jika ia buta? Apakah senja terindah itu berhasil ditemukan oleh Langit? Apakah Bapak Inong sanggup menghadapi kesendirian dan keraguan akan istrinya yang tak diketemukan?

Mengambil latar cerita pada sebuah kapal, film ini menawarkan pemandangan berbeda. Dengan cerita yang mendalam, dari kisah hidup para korban tsunami dan konflik politik di Aceh, film ini mudah membuat orang terharu. Selain tema cinta, teman kehidupan universal juga mendominasi. Bagaimana impian bisa menjadi penuntun bagi orang yang sedang mencari jawaban atas pertanyaan kehidupan. (kpl/uji/nat)

s

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s